
Seorang anak kecil tengah memungut pecahan tembikar, potongan kulit binatang, pelepah kurma dan tulang unta. Benda - benda yang nyaris tak bernilai itu kemudian dikumpulkan di dalam tempayan - tempayan milik ibunya.
Untuk apa barang - barang yang hampir tidak bernilai itu? Tak lain adalah untuk menuliskan hadits - hadits rasulullah Saw. Ibunya tak memiliki cukup uang untuk membelikan alat - alat tulis yang lebih baik dari itu untuknya. akan tetapi, kemiskinan tak membuatnya berputus asa. Ia terus belajar bersama pecahan - pecahan tembikar dan tulang - tulang untanya.
Perjuangan kerasnya itupun membuahkan hasil. saat berusia 7 tahun anak ini telah menghafal seluruh isi al Quran. Kemudian di usianya yang ke 12, ia telah melahap kitab Al-Muwaththa' karya imam malik, tak puas sekedar membacanya, ia juga menghapalkan setiap lembar, paragraf, kalimat bahkan tiap hurufnya. Dia adalah seorang pengembara ilmu.
(Disadur dari buku 'Menggenggam Bara Islam' Abay Abu Hamzah)
Siapa yang tidak mengenalnya ? Dialah imam syafi’i. beliau adalah salah satu imam yang mazhabnya diikuti secara luas oleh mayoritas masyarakat muslimIndonesia . Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Selain itu ia juga ahli bahasa dan syair arab. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath (upaya mengambil keputusan hukum syariah berdasarkan dalil-dalil al-Qur'an atau as-Sunnah yang ada).
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Disana , sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu disana . Imam Syafi’i berguru fiqih kepada mufti di sana , Muslim bin Khalid Az-Zanji. Karena ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan cepat. Beliau juga cerdas dan benar-benar seorang yang berbakat menjadi mufti.
Keinginannya yang besar untuk belajar membuatnya merantau keberbagai tempat untuk menuntut ilmu. Ia pergi ke Madinah untuk berguru dengan imam Malik dan pergi keBaghdad untuk berguru dengan imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ia membuat mazhabnya sendiri.
(Disadur dari buku 'Menggenggam Bara Islam' Abay Abu Hamzah dan berbagai sumber. Semoga semakin bermanfaat)
Untuk apa barang - barang yang hampir tidak bernilai itu? Tak lain adalah untuk menuliskan hadits - hadits rasulullah Saw. Ibunya tak memiliki cukup uang untuk membelikan alat - alat tulis yang lebih baik dari itu untuknya. akan tetapi, kemiskinan tak membuatnya berputus asa. Ia terus belajar bersama pecahan - pecahan tembikar dan tulang - tulang untanya.
Perjuangan kerasnya itupun membuahkan hasil. saat berusia 7 tahun anak ini telah menghafal seluruh isi al Quran. Kemudian di usianya yang ke 12, ia telah melahap kitab Al-Muwaththa' karya imam malik, tak puas sekedar membacanya, ia juga menghapalkan setiap lembar, paragraf, kalimat bahkan tiap hurufnya. Dia adalah seorang pengembara ilmu.
(Disadur dari buku 'Menggenggam Bara Islam' Abay Abu Hamzah)
Siapa yang tidak mengenalnya ? Dialah imam syafi’i. beliau adalah salah satu imam yang mazhabnya diikuti secara luas oleh mayoritas masyarakat muslim
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath (upaya mengambil keputusan hukum syariah berdasarkan dalil-dalil al-Qur'an atau as-Sunnah yang ada).
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di
Keinginannya yang besar untuk belajar membuatnya merantau keberbagai tempat untuk menuntut ilmu. Ia pergi ke Madinah untuk berguru dengan imam Malik dan pergi ke
(Disadur dari buku 'Menggenggam Bara Islam' Abay Abu Hamzah dan berbagai sumber. Semoga semakin bermanfaat)
Komentar
Posting Komentar