Langsung ke konten utama

Catatan, 19/11/2009 : Ya Allah, ternyata aku belum bisa sabar

Hari ini seperti hari - hari sebelumnya aku menjalani rutinitasku, KKL. Seperti biasa saat waktu menunjukkan jam 3 sore aku dan temanku segera menyudahi pekerjaan kami dan membereskan barang - barang kami untuk bersiap - siap pulang (kami memang pulang lebih awal di banding karyawan disana yang pulangnya jam 16.30 wib). Dan seperti beberapa hari terakhir, sore gini memang langganan hujan mengguyur kota bandung, mungkin sudah hampir seminggu ini kami pulang selalu kehujanan.

Azan ashar sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Sepertinya hujannya akan awet karena belum ada tanda - tanda akan reda, justru semakin deras, jadi kuputuskan untuk sholat di kantor saja. Selesai sholat dan pamitan dengan teman2 kami langsung keluar untuk segera pulang, kubuka tas dan opzzzz...astaghfirullah, ternyata aku lupa membawa payung yang biasanya selalu ada dalam tas, mana hujannya cukup deras lagi....

Syukurlah temanku bawa payung, dan akhirnya kami putuskan untuk tetap pulang dengan sepayung berdua. Sambil berlari kecil kami menuju angkot lintas husein di depan SMA 9 yang jaraknya cukup jauh dari kantor. Dengan kondisi hujan deras dan sepayung berdua, tentu saja kami tetap kebasahan, payung hanya berfungsi untuk melindungi kepala dan laptop kami agar tetap aman.

Pyuuuuh...akhirnya nyampe juga di angkot dengan kondisi tubuh sudah setengah basah. Kami masuk ke angkot yang di dalamnya sudah ada beberapa cewek SMA yang baru pulang sedang seru bercerita tentang segala hal tentang teman sekelas, kakak kelas yang cakep, guru yang gini, si ini yang begini dan begitu....ya segala hal yang biasa diobrolkan anak seusia merekalah. Tapi gomong - ngomong supir angkotnya mana ya? dari tadi nggak keliatan tuh... beberapa angkot di belakangpun supirnya pada nggak ada. Ya nggak apa deh nunggu sebentar, paling2 ngetemnya sekitar sepuluh menit terus itu jalan pikirku....

Tapi ternyata apa yang kupikirkan melesat....angkot yang kutumpangi nggak cuma ngetem 10 atau 15 menit, tapi hampir satu jam kami duduk di dalam angkot tanpa ada tanda2 angkotnya akan segera jalan....aku mulai gelisah, kesabaran mulai hilang karena hawa dingin menusuk tulang karena baju yang kupakai basah dan kepikiran akan terperangkap macet di jalan dan kemalaman sampai di kost.

Terus menuggu dengan kesabaran yang kian menipis, kesel banget rasanya dan membuatku ngomel2 nggak jelas ke teman disampingku yang kelihatannya juga mulai capek menunggu. Akhirnya waktu menunjukkan hampir jam setengah 5 sore, kami putuskan turun saja dari angkot dan memilih untuk jalan kaki sampai ke jalan raya (persimpangan yang ada patung husein, jl.padjajaran). Dengan hati yang dongkol kami menyusuri jalan pintas yang menuju jalan raya, dan kami sampai juga di perempatan husein sekitar 10 menit dan langsung masuk ke angkot ST Hall. Syukurlah amgkotnya langsung cabut tanpa menunggu lebi lama lagi.

Dan seperti perkiraanku, kami terjebak macet yang membuat angkot berjalan merayap.
tapi sekarang, sepanjang perjalanan pulang ke cimahi pikiranku tak lagi disibukkan masalah angkot tadi. sekarang kepalaku justru disibukkan dengan perhatian pada kondisi disekelilingku, ada pedagang es tong2 (sejenis es krim) yang sepertinya sepi pembeli karena udara memang dingin, pedagang asongan yang tetap berjualan meski hujan, tukang becak yang juga kehujanan namun tetap berteriak - teriak mencari penumpang, dan tentunya suara klakson yang saling bersahutan memekakkan telinga karena macet. jam segini memang puncaknya orang2 kantor dan anak - anak sekolah pada pulang.

kalo aku lagi di angkot, aku memang suka meratiin orang2 di sepanjang jalan yang justru membuatku banyak belajar dan menyadari bahwa sebenarnya aku jauh lebih beruntung daripada mereka, kehidupanku lebih baik dari mereka. hanya saja masalahnya mungkin aku kurang bersyukur bahkan mungkin tidak tahu berterima kasih atas segala yang diberi-Nya sehingga selalu merasa tidak puas.

Ya Allah ampuni aku yang selalu lalai mensyukuri nikmat-Mu. Dan ampunilah aku yang belum bisa menjadi hamba-Mu yang sabar. Padahal, di setiap doaku selalu terselip untuk meminta kesabaran. Tetapi, ketika Kau uji aku dengan ujian untuk membangun kesabaran itu, aku justru selalu gagal dan kehilangan kesabaranku.

Ya Rabb, aku tahu ujian itu Engkau berikan untuk menjadikanku sabar seperti apa yang selalu kupinta, karena itu Ya Allah...ampunilah aku dan lapangkanlah dadaku...sehingga pada akhirnya aku bisa masuk ke dalam daftar orang2 yang lulus dari ujian-Mu dan menjadi hambamu yang sabar...amiin





Komentar