Jam mengajar seperti hari – hari sebelumnya, setelah
selesai bercuap – cuap menjelaskan materi pelajaran. Saya menuliskan rangkuman
pelajaran di papan tulis untuk di catat oleh anak – anak. Tidak banyak, hanya
lima baris kalimat. Tak tega rasanya membuat mereka terlalu banyak menulis,
selain kasihan tangan mereka sakit saya juga khawatir mereka jadi cepat bosan.
Entah karena masih dalam masa transisi dari kelas 1 ke
kelas 2, atau karena sudah cukup lama libur membuat mereka jadi lebih lambat
menulis dibanding saat mereka di kelas 1. Untuk menyiasatinya, saya memberikan
batas waktu mereka dalam menulis, sehingga mereka termotivasi untuk adu cepat
menulis, tentu saja saya tetap menekankan anak – anak untuk menjaga kerapian
tulisannya.
“Tujuh menit lagi….” Ucap saya sembari melihat jam tangan
saya, yang sebenarnya tidak benar – benar saya perhatikan waktunya.
“Whaaaaaa…” terdengar siswa saya mulai tidak sabar
menyelesaikan tulisannya.
Tak lama kemudian, “Lima menit lagi…..!!!”
Semakin banyak siswa yang mengumpulkan buku catatannya di
atas meja untuk diperiksa. Dan akhirnya….
“Setengah menit lagi….” Ucap saya asal.
Masih ada 3 atau empat orang lagi siswa saya yang terus
‘khusyu’ menyelesaikan tulisannya. Sedangkan siswa lain
yang telah selesai sibuk dengan ngobrol atau membaca buku cerita.
Tiba – tiba seorang siswa saya yang sudah selesai menulis
jauh lebih awal, maju menghampiri saya, “Ustadzah….ustdzah…” panggilnya
setengah berbisik.
“Ya
nak?”jawab saya sembari sibuk memeriksa catatan anak – anak di depanku.
“Ustadzah,
tambah lah lagi waktunya. Kasihan saya lihat mereka….” Ucapnya dengan wajah
polosnya.
Deeegggg…..
Mungkin
bagi kebanyakan orang, kalimat itu adalah kalimat biasa. Tapi buat saya itu
kaliamat yang luar biasa. Yang keluar dari seorang anak berusia 7 tahun, kelas
2 SD.
Dari
kelas 1 sampai sekarang mereka naik kelas 2, lebih dari 1 tahun saya
membersamai mereka senin samapai sabtu. Jadi saya kenal betul tingkah polah
mereka sehari – hari, sebagaimana anak – anak pada umumnya, sibuk dengan
bermainnya.
Dan
siswa saya yang satu ini, Habsyi namanya…disaat teman – temannya yang sibuk
dengan bermain, membaca atau sekedar bercerita, ternyata dia sempat untuk
memperhatikan teman – temannya yang lain yang sedang ‘panik’ diburu waktu ½
menit untuk menyelesaikan catatan. Dan dia sempatkan waktunya untuk maju menghampiri
saya demi meminta tambahan waktu untuk teman – temannya.
Disaat
saya dengan santainya memburu anak – anak dengan waktu untuk menyelesaikan
catatannya, dengan sudut pandang yang berbeda Habsyi mengingatkan saya bahwa
ini bukan hal yang mudah bagi mereka….Sederhanyanya, karena dia yang berada di
posisi yang sama dengan teman – teman yang lain. Walaupun dia telah selesai
lebih dulu, tapi dia sudah merasakan hal yang sama seperti yang dialami
temannya yang belum selesai. Sama – sama capek menulis…dan merasa ‘panik’ saat
saya membatasi waktu mereka. Dan saya, saya tidak ada di posisi mereka sehingga
saya tidak merasa berat ketika berulang kali menegaskan ke anak – anak bahwa
waktu mereka tinggal sekian….dan sekian menit lagi.
Tanpa
pikir panjang saya pun kembali mengumumkan :
“Oke,
waktunya ustadzah tambah 2 menit lagiiiii….”
“Haaaahhh…!”
*Siswa yang lain bengong (-_-)”
Komentar
Posting Komentar