Ternyata,
suara itu berasal dari seorang bapak yang sedang memanggil – manggil ibu di samping rumah saya. Tapi
si empunya rumah gak keluar – keluar juga, “mungkin masih tidur.” Pikirku
Si
bapak tampaknya masih enggan beranjak, sesekali terdengar suaranya memanggil –
manggil kembali. Penasaran membuat saya kembali menyingkap tirai, pengan tau si
bapak mau ngapain sih. Baru nyadar, ternyata saya kepo juga ya heheheee….
Saya
lihat si bapak meletakkan karung yang dibawanya di atas bangku panjang milik si
ibu. Sambil menunggu si bapak mengeluarkan isi karungnya dan menatanya.
Ternyata isinya kacang panjang dan cempedak.
Saya
keluar rumah dan menengok ke arah tempat parkir, dan ternyata motor si ibu yang
dari tadi dipanggil – panggil tidak ada.
“Maaf
pak, nyari ibu sebelah ya…?” tanya saya
“Iya,
kemana ya Ibunya” jawab si bapak sambil berjalan ke arah saya
“Oh,
kayaknya lagi keluar pak, soalnya motornya gak ada tuh…” jawab saya sambil
menunjuk ke tempat parkir. “Kenapa pak, ibunya pesan sayur?” tanya saya sok
tau.
“Ndak
mbak, Cuma ibu itu kemarin nanyain cempedak, jadi mungkin saja mau beli.” Jawab
si bapak
“Oooh…gitu.
Iya pak. Iya tuh pak ibunya lagi gak ada…” saya kembali menegaskan sambil
berpamitan masuk ke rumah.
Beberapa
menit setelahnya saya lihat si bapak masih betah juga nungguin si ibu, yang
belum tentu mau beli cempedaknya. Kasih pikir saya, demi menjual cempedak yang
harganya tidak seberapa se bapak rela berlama – lama menunggu.
Karena
kasihan saya berniat membeli kacang panjang yang dibawanya, tadi sebelum masuk
si si bapak sempat menawarkan jualannya pada saya. Lumayan lah mengurangi berat
bawaan si bapak, meskipun saya sebenarnya tidak begitu berminat mengingat di
kulkas masih banyak persediaan sayur yang belum saya masak. Tapi gak apalah
buat sedekah, apalagi ini hari jumat hari yang berkah.
Karena
saya niatnya mau sedekah, jadi saya ambil uang lebih dari dompet, lalu pergi
nyamperin si bapak.
“Pak
kacang panjangnya berapa? “ tanya saya seraya menunjuk ke arah kacang panjang
yang terlihat masih sangat segar
“ Dua
ribu satu ikat, mau?” si bapak langsung menyodorkannya pada saya
“Lima
ribu tiga ikat ya pak?!” saya coba menawar
“oh
iya boleh, ini….” Si bapak menyerahkan tiga ikat kacang panjang pada saya. Dan
langsung saya bayar dengan uang sepuluh ribu.
“Udah
pak, kembaliannya gak usah” saya menahan si bapak yang ingin mencari uang
kembali
Si
bapak yang sempat bengong, tampak senang dan mengucap terima kasih. Saya pun
masuk rumah dengan membawa tiga ikat kacang panjang. Tapi sambil jalan saya
mikir, kayaknya ada yang aneh. Kalo niatnya bayar lebih untuk sedekah, nagapain
juga saya tadi pake acara nawar segala. Sedekah koq nawar….dasar ibu – ibu belanja,
kebiasaan deh….. pantes aja si bapak sempat bingung, ngasih lebih tapi ditawar
dulu. *tepok jidat
Komentar
Posting Komentar