Nafsu, sekalipun merupakan manajer yang buruk, tetapi merupakan penguasa. Jadi berhati-hatilah berurusan dengannya [Ralph Waldo Emerson]
Maksud hati ingin ukhuwah dengan lawan jenis, tapi malah terjebak dalam pacaran. Tadinya pengen menjalin ukhuwah islamiyah, tapi apa daya kecemplung jadi demenan. Ehm, inilah dilema para aktivis dakwah. Mereka yang aktif di rohis, aktif di LDK alias Lembaga Dakwah Kampus, atau remaja masjid di sekitar tempat tinggal, sering kebingungan kalo berhubungan dengan lawan jenis yang sama-sama aktif. Maklum, karena cinta tak mengenal batasan, tak mengenal kelompok, dan tak mengenal jenjang akademik. Ia bisa hadir di mana saja termasuk di lingkungan para aktivis dakwah. Hmm… ini namanya CBSA alias Cinta Bersemi Sesama Aktivis. Mana tahan?
Kita nggak menafikan perasaan itu sobat. Pasti selalu ada. Benih-benih cinta itu akan senantiasa tumbuh subur dalam dada setiap manusia. Apalagi jika kita selalu berkomunikasi dan bertemu alias melakukan tatap muka dan tatap raga dengan lawan jenis kita. Jadi nggak usah heran, sebab hubungan dengan lawan jenis itu rentan banget disusupi oleh perasaan-perasaan lain yang getarannya lebih dahsyat. Apalagi kalo ditambah naik bajaj, dijamin tambah ‘menggigil’ karena vibrasinya kuat banget (apa hubungannya?) J
Sobat muda muslim, sesama aktivis masjid atau organisasi kerohanian di sekolah dan kampus, selalu saja muncul hal-hal tak terduga. Cinta lokasi kerap mewarnai perÂjalanan hidup mereka. Iya dong, aktivis juga kan manusia. Wajar banget untuk merasakan hal-hal seperti itu. Apalagi mereka sama-sama sering bertemu. Bukankah pepatah Jawa mengatakan, witing tresno jalaran soko kulino sering jadi rujukan untuk menggambarkan perasaan itu?
Emm… jadi rasa cinta itu muncul karena seringnya bersama, berkomunikasi, atau bertemu, begitu maksudnya? Yup, kamu cukup cerdas dalam masalah ini. Iya, jadi jangan kaget or heran kalo sesama aktivis pengajian muncul perasaan itu. Apalagi di antara mereka udah saling mengetahui kebiasaan masing-masing. Dijamin perasaan ‘ser-seran’ keduanya kian hebat karena dijembatani oleh seringnya komunikasi dan frekuensi pertemuan. Dalam kondisi seperti ini, panah-panah asmara mulai dilepaskan dari busur masing-masing dalam nuraninya. Itu artinya sang panah asmara siap menembus hati masing-masing. Siap memekarkan kuncup dan menjadi bunga-bunga di taman hati mereka. Wangi dan harum semerbak. Seterusnya, jatuh hati dan saling memendam rindu. Hmm… indah nian rasanya.
Jadi, kalo nggak kuat-kuat amat imannya, kamu akan menilai bahwa rasa itu harus segera diekspresikan. Bukan tak mungkin kan kalo kamu bakalan melakoni aktivitas pacaran sebagaimana layaknya dilakukan oleh mereka yang masih awam sama ajaran agama? Mulanya di antara kamu mulai berani janjian untuk ketemu di masjid. Walau mungkin masih malu-malu. Tapi jangan salah lho, jika nafsu udah jadi panglima, akal sehat kamu pasti jadi keroconya. Kamu lalu deklarasi dalam hati: “akal sehat saatnya minggir!�. Waduh, gimana jadinya kalo sesama aktivis malah terjebak dalam perasaan dan perbuatan seperti ini?
Sobat muda muslim, memang ukhuwah itu tidak dibatasi cuma kepada satu jenis manusia aja, tapi kepada dua jenis sekaligus, yakni laki dan wanita. Bahkan ukhuwah islamiyah berdimensi sangat luas, yakni nggak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kapan pun dan di mana mereka berada, asal mereka adalah muslim, itu saudara kita. Hanya saja, untuk ukhuwah dengan lawan jenis, memang ada aturan mainnya sendiri, sobat. Nggak sembarangan, atau nggak sebebas dalam bergaulnya seperti kepada teman satu jenis.
Komentar
Posting Komentar