Langsung ke konten utama

GURU ABAD 21 UNTUK GENERASI 4.0

Guru Abad 21 Untuk Generasi 4.0
Revolusi industri keempat atau industrial revolution 4.0 kini menjadi perbincangan banyak pihak. Berbagai kalangan pemerintah, industri dan perusahaan mengerahkan segala persiapan untuk menghadapinya. Namun, apa sebenarnya revolusi industri 4.0 itu? Dan apa dampaknya bagi generasi masa depan?
Klaus Schwab adalah orang yang pertama kali mengenalkan istilah revolusi industri 4.0 pada pertemuan Word Economic Forum 2016 lalu. Ia memaparkan bagaimana kini revolusi teknologi sedang berlangsung dan mengaburkan batas antara fisik, digital dan biologis. Atau sederhananya, revolusi industri keempat adalah bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan, otomatisasi dan internet saling mempengaruhi kehidupan manusia. Mesin, Robot dan kecerdasan buatan perlahan namun pasti semakin banyak digunakan untuk menggantikan peran manusia dalam pekerjaan, terutama untuk pekerjaan – pekerjaan yang sifatnya repetitif (berulang), khususnya di dunia industri. Sebut saja Amazone, Suzuki ataupun industri – industri pengolahan makanan dan minuman dalam negeri seperti Ultra Jaya Milk Industry. Penggunaan otomasi mesin industri dianggap lebih cepat, efisien dan masif daripada penggunaan tenaga manusia. 
Di sisi lain, bonus demografi yang sedang malanda Indonesia membuat meledaknya populasi masyarakat usia produktif  yang kemudian bersamaan dengan datangnya era revolusi industry 4.0 ini. Dampaknya, hal ini menjadi ancaman nyata bagi low skill worker maupun profesi dengan jenis pekerjaan yang repetitif, karena dapat dengan mudahnya tergantikan oleh mesin, robot dan kecerdasan buatan. Yang kesemuanya itu merupakan dampak dari perubahan besar teknologi yang identik dengan istilah Internet of Things (IoT), Big Data, Cloud Computing, dan Mechine Learning. Bidang pekerjaan yang diperkirakan tetap bertahan di era 4.0 antara lain industri kreatif, IT, professional seperti dokter, guru, pelayanan kesehatan dan pendidikan serta  jasa kontruksi.
Datangnya revolusi industri keempat ini tentu berdampak nyata bagi dunia pendidikan, khususnya bagi para pendidik dan peserta didik. Datangnya revolusi industri keempat ini sejatinya menjadi tantangan pula bagi para insan pendidik, yang seharusnya menjawab tantangan ini dengan siap mengubah persepsi dan cara mendidik yang yang sesuai untuk generasi abad 21 atau generasi 4.0, yang tentunya sangat berbeda dengan pola atau cara mendidik generasi – generasi sebelumnya.
Bagaimana tidak, di pundak para pendidik memikul tanggungjawab besar untuk mempersiapkan generasi – generasi yang siap menghadapi setiap perubahan dan tantangan di masa depan. Generasi yang siap berjalan bahkan berlari di atas lajunya putaran perubahan dunia abad 21. Bukan sebaliknya, generasi yang lemah, tertinggal bahkan tergilas oleh putaran roda revolusi industri keempat, yang bisa jadi imbas dari low skill dan low character. Ya, inilah tanggungjawab saya, anda dan kita semua sebagai para pendidik, untuk membentuk generasi tangguh dan berkarakter positif abad 21, untuk siap menghadapi revolusi industri 4.0 yang sudah di depan mata.
Tentu menjadi hal aneh bukan jika kita ingin berhasil mendidik generasi abad 21, namun pola atau cara mendidik yang kita gunakan masih sama dengan pola pendidkan abad 20, 19 bahkan abad 18? Sebagai guru, mari dengan jujur kita lihat kembali bagaimana pola pengajaran yang kita lakukan setiap hari di kelas terhadap anak – anak didik kita. Setiap hari anak – anak dikirim ke sekolah untuk belajar dan mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi dunia nyata, dunia yang nyatanya terus berubah dan semakin cepat. Ironisnya, sekolah dan cara mengajar kita tidak banyak yang berubah.
Jika saat ini kita sebagai guru masih sangat nyaman dengan kondisi kelas, dimana siswa wajib duduk diam dan mendengarkan guru memaparkan materi dengan ceramah terus menerus, meminta siswa menghafal setumpuk materi yang kemudian hilang seminggu bahkan sehari setelah ujian. Atau menjejali siswa dengan berbagai perintah, duduk, dengarkan, berhenti bicara, selesaikan soal halaman sekian, harus seperti ini dan harus begitu sesuai keinginan guru, tanpa memberikan ruang untuk keinginan dan ide – ide kreatif siswa. Maka bisa dikatakan pembelajaran yang kita gunakan masih tertinggal satu bahkan dua abad di belakang. 
Mirisnya lagi, jika kita termasuk guru yang anti bahkan selalu memandang negatif penggunaan media digital dalam pembelajaran. Padahal, inilah masanya, masa dimana media digital bisa dimaksimalkan penggunaannya untuk menunjang pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Ingat, kehidupan di depan yang akan dijalani anak didik kita adalah kehidupan berbeda, kehidupan yang segala sesuatu terhubungkan dengan internet, Internet of Things (IoT). Masa dimana dibutuhkan orang – orang yang mampu berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi dan menjalin relasi seluas – luasnya.
Disamping itu,  yang perlu kita ingat dan pahami adalah, kita dan lembaga pendidikan bukanlah pabrik penghasil robot atau mesin yang siap beroperasi di pabrik yang lain. Selain menghasilkan generasi yang produktif dan siap bersaing di ketatnya kompetisi pekerjaan di masa depan, yang jauh lebih penting adalah lembaga pendidikan harus mampu melahirkan manusia – manusia yang utuh. Yaitu manusia yang bisa berkontribusi positif bagi diri, lingkungan dan negaranya. Merekalah generasi yang memiliki life skill unggul dan berkarakter positif. Life skill dan pendidikan karakter adalah sesuatu yang mutlak dibentuk oleh pendidikan.
Kita patut bersyukur, sebagai pendidik kita tidak berdiri sendiri menghadapi datangnya revolusi industri keempat ini. Ada dukungan serius dari Pemerintah,  yang ditunjukkan dengan dihadirkannya pembelajaran abad 21. Kompetensi yang dibutuhkan di era Pendidikan 4.0 seperti keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill), keterampilan komunikasi dan kolaboratif (communication and collaborative skill), keterampilan berpikir kreatif dan inovasi (creativity and innovative skill), serta kemampuan literasi teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology literacy) diramu apik dalam pembelajaran abad 21 yang dihadirkan pemeritah untuk dunia pendidikan. Kompetensi ini sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad 21. Guru harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengeksplor kompetensi ini dari diri peserta didik.
Untuk saat ini, pembelajar abad 21 dianggap menjadi solusi terbaik untuk menjawab tantangan di era pendidikan industri 4.0. Tinggal bagaimana peran sekolah dan guru untuk memaksimalkan implementasinya pembelajaran abad 21 ini di satuan pendidikannya masing – masing. Tentu untuk merubah pola pembelajaran lama menjadi baru bukanlah hal yang mudah. Namun, menjadi niscaya apabila ada kerjasama dari semua pihak yang serius mewujudkannya. Pemerintah, instansi terkait serta kepala sekolah harus serius mendorong para guru untuk meningkatkan kompetensinya, bukan hanya melalui kata – kata motivasi belaka, melainkan aksi nyata, misalnya dengan memberikan kesempatan pelatihan – pelatihan pengembangan diri dan kompetensi agar guru – guru mampu menjadi pendidik berkompetensi abad 21.
Dan terkhusus bagi kita insan pendidik, agar layak menjadi guru yang menerapkan pembelajaran abad 21, tentu guru harus terus belajar dan meningkatkan kompetensinya agar mampu menghadapi peserta didik generasi milenial saat ini. Bagaimana mungkin kita mendidik siswa generasi 4.0 dengan kemampuan industri 3.0,  bahkan mungkin kemampuan guru masih industri 2.0. Kualitas atau kompetensi guru tentunya harus sesuai dengan performa guru yang dibutuhkan di era 4.0. Sebagai seorang guru, saat kita mendorong peserta didik kita untuk terus maju, tentu kita pun tidak boleh diam melainkan ikut bergerak maju.
Mengutip perkataan bapak pendidikan kita,
Ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
(Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan)
(Ki Hajar Dewantara)
Kitalah guru, pendorong generasi maju, generasi unggul berkarakter abad 21. Mari mendidik dengan hati. Salam Pendidikan!
~Selamat Hari Guru 2019~


FARIDAH, S.ST, S.Pd lahir di Tarakan pada 27 Maret 1988. Merupakan anak ke – 3 dari tiga bersaudara. Menghabiskan masa kecil dan menyelesaikan pendidikan dari SD – SMA di kebupaten Berau, Kalimantan Timur. Bungsu dari tiga bersaudara ini mulai menyenangi dunia buku bacaan dan tulis – menulis saat mulai masuk di kelas XI Bahasa SMA 4 Berau.
Bercita – cita menjadi guru bahasa, endorong penulis mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun 2007 dan berhasil lulus tes seleksi di pilihan pertama FKIP Bahasa Inggris Universitas Mulawarman. Namun karena keterbatasan ekonomi akhirnya harus berbesar hati menanggalkan cita - citanya.
Dengan tidak putus asa dan modal semangat yang masih tersisa penulis akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan, meskipun di jurusan yang 180 derajat berbeda dari jurusan yang diinginkan. Alhamdulillah, dengan syukur dan sabar akhirnya pada 2011 penulis bisa menyelesaikan pendidikan Diploma Empat (DIV) dari jurusan Teknik Mekanik Industri & desain, Politeknik TEDC Bandung.
Melanjutkan Pendidikan linear di Univesitas Terbuka (UT) di jurusan PGSD dan lulus pada tahun 2019.
Pada  tahun 2012 – sekarang penulis bergabung di Yayasan Pendidikan Ibnu Sina sebagai pendidik di SDIT Ibnu Sina Nunukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mulailah Menulis!

  Pernah ga sih kamu kesulitan saat ingin menulis sesuatu? Merasa bingung mau memulai dengan kata – kata apa. Atau sebaliknya, lagi asik nulis suatu cerita, eh tiba di pertengahan cerita malah ngerasa ngambang terus bingung mau dibawa kemana nih ending ceritanya. Aku juga ngerasain hal itu loh. Dan ternyata, ada banyak orang di luar sana yang punya kesulitan yang sama saat membuat tulisan. Ada yang sulit mengawali, ada pula yang sulit mengakhiri ceritanya. Nah, bersyukur banget nih malam ini aku berkesempatan untuk hadir di acara “Ngobrol Santai bersama Penulis Ibukota”. Acara yang disponsori dan dimotori langsung oleh Book & Café Nunukan. Gak nangung – nanggung, acara ngobrol santai ini menghadirkan 3 pembicara yang sudah malang melintang di dunia tulis menulis. Sebut saja bapak Masri Sareb Putra, penulis 106 judul buku, salah satu dosen Universitas Multimedia Nusantara. Kemudian ada kang Pepih Nugraha, wartawan kompas 1990 – 2016, pendiri Kompasiana.com dan Pepnews. Dan...

Muhammad al-Fatih Secrets Revealed!

Bisyarah adalah sebuah kabar gembira yang Allah turunkan kepada ummatnya, baik melalui al-Qur’an ataupun melalui ucapan rasulullah. Bisyarah adalah perlambang janji Allah dan menjadi penyemangat kaum muslim selama berabad-abad lamanya, keyakinan akan janji ALlah ini terpatri kuat di dalam jiwa kaum muslim dan menjadi harapan ditengah-tengah kepuusasaan, menjadi pengingat dalam kealpaan dan menjadi sebuah sumber energi yang tidak terbatas sampai kapanpun juga. Dengan bisyarah inilah kaum muslim berjuang dan menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia. Salah satu bisyarah yang dapan menginspirasi setiap muslim adalah bisyarah rasulullah yang disampakan oleh Abdullah bin Amru pada shahabat: فقال عبد الله بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي المدينتين تفتح أولا قسطنطينية أو رومية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مدينة هرقل تفتح أولا يعني قسطنطينية Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulul...

AYO JADI BINTANG!!!

Yang saya maksud di sini bintang beneran lho, bukan bintang film, bintang iklan,bintang kelas dan sejenisnya. Yang kayak gitu mah lewaaaaaaat…ga perlu di pikirin. Yang kita omongin dimaksud disini adalah BINTANG beneran. Yang ada nun jauh di langit sana. Truz, hubungannya dengan kita??? Nah ini dia nich : Sebenarnya, bintang – bintang itu nggak Cuma ada di langit lhooooo… Di bumi juga ada koQ Bintang – bintang yang bersinar karena kemilau iman di dadanya Bintang yang bersinar karena kemilau ahlaknya Bintang yang bersinar karena ketinggian ilmunya Bintang yang berisnar karena paling bermanfaan bagi sesam a Ayo bersiap menjadi salah satu dari bintang – bintang itu, teruslah bersinar…. Jadilah bintang sejati yang meneramgi orang – orang di sekelilingmu “ (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki – laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan disebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), pada hari ini ada berita untukmu, (yaitu...