Assalamu’alaikum sahabat…
Apa kabar iman kita hari ini ?
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita kenikmatan dari manisnya iman dan islam ini. Semoga Allah karuniakan pula kepada kita hati yang selalu merindui-Nya, selalu menggantungkan harapan hanya kepada-Nya.
Semaga kita menikmati setiap sujud di solat – solat kita, Untaian tilawah kita, Serta doa – doa kita kepada –Nya. Jauh dari hati yang lalai dari mengingat-Nya
Kembali ingin berbagi cerita untuk sahabat semua…
Semoga tulisan ini bisa menghimpun sebagian cerita yang begitu banyak terserak. Yang tak mungkin mampu diingat aapalagi tertuliskan semuanya.
Namun, cukup untuk bisa menyimpan apa yang masih mampu diingat dan dituliskan disini.
***
Alhamdulillah, lebih dari dua tahun saya menjadi seorang guru. Guru di salah satu sekolah dasar islam swasta, di sebuah pulau nan kecil mungil di bagian utara pulau Kalimantan. Tepatnya di kabupaten nunukan, Kalimantan utara.
Mulanya, menjadi seorang guru bukanlah pilihan…tetapi lebih sebagai pelarian. Pelarian karena kecewa bahkan hampir frustasi karena terpaksa mengikuti kemauan orang tua untuk menetap di nunukan. Tidak ada pilihan selain mengikuti kemuan ibu.
Bisa saja memilih nekat seperti biasa, pergi dan mengejar cita – cita tanpa peduli perasaan ibu. Tapi kali ini saya benar – benar tidak punya keberanian untuk itu, takut jadi anak durhaka. Bagaimana mungkin Allah akan Ridho dengan pilihan saya jika orang tua, terutama seorang ibu tidak Ridho. Saya ingin hidup yang berkah, titik.
Finally…this is me now. Saya menjadi seorang guru, guru SD. Awalnya adalah pelarian. Waktu berlalu dan saya tetap menjadi guru, alasannya….saya malas move on, harus repot masukin lamaran kesana kemari. Yah saya malas move on… dan memang tidak punya obsesi jangka panjang untuk menjadi wanita karir yang sibuk dikantoran.
Cita – cita saya sebenarnya sederhana, mendapatkan pasangan hidup yang soleh dan mapan dalam pekerjaan, sehingga saya bisa stay at home dan focus mendidik 5 anak saya kelak. That’s my dreams ^_^
Tapi tidak seorangpun tahu jalan seperti apa yang disediakan Allah di depan sana. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mewujudkan mimpi/harapan, tentu harus tetap berjalan di jalur dan mengikuti aturan-Nya. Kita hanya berjibaku untuk menjalani proses hidup sebaik mungkin, masalah hasil, itu haknya Allah.
Back to the point… I am teacher.
Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, saya justru bersyukur Allah membuat saya ada disini, memberi saya kesempatan untuk menjadi seorang guru. Lebih dari sekedar persoalan mendapatkan penghasilan. Ada kebahagian lain yang jauh lebih besar, ada harapan lain yang ingin diwujudkan.
Kebahagiaan menyadari bahwa Allah telah memberikan saya kesempatan berinvestasi untuk akhirat.
Harapan untuk menjadikan anak – anak didik saya menjadi manusia – manusia cerdas nan soleh/solehah.
Kita bisa punya beribu rencana, tapi rencana Allah lebih indah dan pastinya baik bagi kita. Berprasangka baik kepada Allah adalah kewajiban, karena Allah tergantung prasangka Hambanya. Dan yakinlah Allah Maha penyayang, kasih sayang Allah jauh melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Jika orang tua saja selalu ingin yang terbaik bagi anak – anaknya, apalagi Allah. Jadi, selalu berprasangka baiklah kepada Allah. Berharap dan memintalah hanya kepada-Nya.
“Tuhanku, berikanlah kepadaku kemampuan bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan amal saleh yang Engkau ridhai. Dan perbaikilah untukku keturunanku, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku adalah bagian dari kaum muslimin”
Apa kabar iman kita hari ini ?
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita kenikmatan dari manisnya iman dan islam ini. Semoga Allah karuniakan pula kepada kita hati yang selalu merindui-Nya, selalu menggantungkan harapan hanya kepada-Nya.
Semaga kita menikmati setiap sujud di solat – solat kita, Untaian tilawah kita, Serta doa – doa kita kepada –Nya. Jauh dari hati yang lalai dari mengingat-Nya
Kembali ingin berbagi cerita untuk sahabat semua…
Semoga tulisan ini bisa menghimpun sebagian cerita yang begitu banyak terserak. Yang tak mungkin mampu diingat aapalagi tertuliskan semuanya.
Namun, cukup untuk bisa menyimpan apa yang masih mampu diingat dan dituliskan disini.
***
Alhamdulillah, lebih dari dua tahun saya menjadi seorang guru. Guru di salah satu sekolah dasar islam swasta, di sebuah pulau nan kecil mungil di bagian utara pulau Kalimantan. Tepatnya di kabupaten nunukan, Kalimantan utara.
Mulanya, menjadi seorang guru bukanlah pilihan…tetapi lebih sebagai pelarian. Pelarian karena kecewa bahkan hampir frustasi karena terpaksa mengikuti kemauan orang tua untuk menetap di nunukan. Tidak ada pilihan selain mengikuti kemuan ibu.
Bisa saja memilih nekat seperti biasa, pergi dan mengejar cita – cita tanpa peduli perasaan ibu. Tapi kali ini saya benar – benar tidak punya keberanian untuk itu, takut jadi anak durhaka. Bagaimana mungkin Allah akan Ridho dengan pilihan saya jika orang tua, terutama seorang ibu tidak Ridho. Saya ingin hidup yang berkah, titik.
Finally…this is me now. Saya menjadi seorang guru, guru SD. Awalnya adalah pelarian. Waktu berlalu dan saya tetap menjadi guru, alasannya….saya malas move on, harus repot masukin lamaran kesana kemari. Yah saya malas move on… dan memang tidak punya obsesi jangka panjang untuk menjadi wanita karir yang sibuk dikantoran.
Cita – cita saya sebenarnya sederhana, mendapatkan pasangan hidup yang soleh dan mapan dalam pekerjaan, sehingga saya bisa stay at home dan focus mendidik 5 anak saya kelak. That’s my dreams ^_^
Tapi tidak seorangpun tahu jalan seperti apa yang disediakan Allah di depan sana. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mewujudkan mimpi/harapan, tentu harus tetap berjalan di jalur dan mengikuti aturan-Nya. Kita hanya berjibaku untuk menjalani proses hidup sebaik mungkin, masalah hasil, itu haknya Allah.
Back to the point… I am teacher.
Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, saya justru bersyukur Allah membuat saya ada disini, memberi saya kesempatan untuk menjadi seorang guru. Lebih dari sekedar persoalan mendapatkan penghasilan. Ada kebahagian lain yang jauh lebih besar, ada harapan lain yang ingin diwujudkan.
Kebahagiaan menyadari bahwa Allah telah memberikan saya kesempatan berinvestasi untuk akhirat.
Harapan untuk menjadikan anak – anak didik saya menjadi manusia – manusia cerdas nan soleh/solehah.
Kita bisa punya beribu rencana, tapi rencana Allah lebih indah dan pastinya baik bagi kita. Berprasangka baik kepada Allah adalah kewajiban, karena Allah tergantung prasangka Hambanya. Dan yakinlah Allah Maha penyayang, kasih sayang Allah jauh melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Jika orang tua saja selalu ingin yang terbaik bagi anak – anaknya, apalagi Allah. Jadi, selalu berprasangka baiklah kepada Allah. Berharap dan memintalah hanya kepada-Nya.
“Tuhanku, berikanlah kepadaku kemampuan bersyukur atas nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan amal saleh yang Engkau ridhai. Dan perbaikilah untukku keturunanku, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku adalah bagian dari kaum muslimin”
Komentar
Posting Komentar