Suatu hari, seorang anak laki - laki miskin yang hidup sebagi pedagang asongan kehabisan uang. Dengan kondisi yang sangat lapar ia memutuskan untuk mengetuk salah satu pintu salah satu kompleks perumahan dinas. tibalah ia di sebuah rumah, karena sangat lapar iapun memberanikan diri menetuk pintu untuk meminta sedikit makanan. Pintupun terbuka, dan muncul seorang ibu muda istri pejabat dari balik pintu. Tiba-tiba saja si anak kehilangan keberaniannya untuk meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air dari ibu muda itu. Ibu muda itu memperhatikan anak tersebut dan berpikir bahwa anak ini pasti lapar.
iapun masuk, dan tak lama keluar kembali dengan membawa segelas susu. Anak lelaki itupun minum dengan lahap karena laparnya. Tak seberapa lama, si anak pun bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?"
Ibu muda itupun menjawab, " Kamu tidak perlu membayar apapu, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan," kata ibu muda itu.
Sambil kembali menhabiskan susunya, si anak berkata dalam hatinya: "Dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang baik ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat!"
iapun masuk, dan tak lama keluar kembali dengan membawa segelas susu. Anak lelaki itupun minum dengan lahap karena laparnya. Tak seberapa lama, si anak pun bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?"
Ibu muda itupun menjawab, " Kamu tidak perlu membayar apapu, orang tua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan," kata ibu muda itu.
Sambil kembali menhabiskan susunya, si anak berkata dalam hatinya: "Dari hatiku yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang baik ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat!"
Beberapa puluh tahun kemudian...
Ibu muda yang itu kini telah berusia sangat lanjut dan mengalami sakit yang kritis. balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, apalagi saat ini ia sudah berstatus sebagai seorang janda pensiunan kereta api. atas saran keluarganya, si ibu dipindahkan ke rumah sakit umum pemerintah yang ada di kota tersebut. Namun tetap saja tidak bisa diobati. Akhirnya dengan menjual barang - barang yang tersisa dan atas bantuan rekan - rekannya, si ibu ini pun di rujuk ke rumah sakit ibu kota karena disana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya.
dr.Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat mendengar nama kota asal ibu tersebut, terbesit seberkas pancaran aneh di mata dr.Sobur, ia segera bangkit dan mengenakan jubah dokternya dan bergegas menuju kamar wanita tua itu. Ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang.
dr Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medical check up total serta terapi - terapi medis lainnya.
"Pokoknya ibu tersebut harus sembuh." Demikian obsesinya. Mulai hari itu, wanita tua yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit itupun menjadi perhatian dr Sobur dengan kasih yang tulus. Memasuki tiga bulan di rumah sakit, ibu itu benar - benar sembuh.
dr Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirim seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. dr Sobur melihatnya , dan menuliskan sesuatu di pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia yakin si ibu tidak sanggup untuk membayarnya.
Lembar tagihan itupun akhirnya sampai ke tangan si ibu, dengan rasa was - was ia emberanikan diri untuk membaca lembar tagihan tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika membaca tulisan di pojok atas lembar tagihan tersebut yang bunyinya " Telah dibayar lunas dengan segelas susu"
Ibu muda yang itu kini telah berusia sangat lanjut dan mengalami sakit yang kritis. balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, apalagi saat ini ia sudah berstatus sebagai seorang janda pensiunan kereta api. atas saran keluarganya, si ibu dipindahkan ke rumah sakit umum pemerintah yang ada di kota tersebut. Namun tetap saja tidak bisa diobati. Akhirnya dengan menjual barang - barang yang tersisa dan atas bantuan rekan - rekannya, si ibu ini pun di rujuk ke rumah sakit ibu kota karena disana ada dokter yang mampu mengobati penyakit komplikasinya.
dr.Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat mendengar nama kota asal ibu tersebut, terbesit seberkas pancaran aneh di mata dr.Sobur, ia segera bangkit dan mengenakan jubah dokternya dan bergegas menuju kamar wanita tua itu. Ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang.
dr Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan serangkaian medical check up total serta terapi - terapi medis lainnya.
"Pokoknya ibu tersebut harus sembuh." Demikian obsesinya. Mulai hari itu, wanita tua yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit itupun menjadi perhatian dr Sobur dengan kasih yang tulus. Memasuki tiga bulan di rumah sakit, ibu itu benar - benar sembuh.
dr Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirim seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. dr Sobur melihatnya , dan menuliskan sesuatu di pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia yakin si ibu tidak sanggup untuk membayarnya.
Lembar tagihan itupun akhirnya sampai ke tangan si ibu, dengan rasa was - was ia emberanikan diri untuk membaca lembar tagihan tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika membaca tulisan di pojok atas lembar tagihan tersebut yang bunyinya " Telah dibayar lunas dengan segelas susu"
(Inspirasi dari dari sebuah buku "Half Full - Half Empty" Parlindungan Marpaung)
Komentar
Posting Komentar