Langsung ke konten utama

Antara Batik dan Miyabi

Ganyang Malaysia! Itulah selogan yang marak kita dengar ketika beredar berita tentang perebutan laut ambalat antara Indonesia dan Negara tetangga Malaysia, atau bahkan ketika baru – baru ini beredar berita yang berkenaan tentang batik dan beberapa kebudayaan milik Indonesia lainnya yang di klaim oleh Malaysia sebagai milik Negara mereka.
Sontak rakyat Indonesi angkat suara tidak terima dan merasa kecolongan oleh Negara tetangga. Selanjutnya berbagai upaya dilakukan agar bisa mempertahankan kebudayaan asli Indonesia sampai pada akhirnya batik pun bisa dipatenkan dan diakui dunia internasional sebagai kebudayaan asli Indonesia. Itu baru menyangkut soal batik, dan sekarang isu yang sedang hangat di Indonesia adalah tentang isu akan kedatangan miyabi yang menjadi icon porno jepang yang sengaja diundang ke Indonesia untuk bermain di sebuah film komedi. Tentu saja hal ini langsung menyulut pro dan kontra di masyarakat. Bagaimana tidak, Indonesia yang masih menjunjung tinggi nilai – nilai ketimuran tentu saja tidak terima karena hal itu dianggap akan merusak citra Indonesia dan juga kaum muda saat ini yang cenderung latah para public figure tersebut. Tapi walaupun ditentang banyak kalangan, pihak yang mengundang miyabi menegaskan bahwa miyabi akan tetap jadi dating ke Indonesia walaupun tidak pada waktu yang di jadwalkan sebelumnya. Walaupun film yang akan dimainkan miyabi itu bernuansa komedi tapi tetap saja akan sama seperti film – film lainnya yang sarat dengan muatan pornoaksi dan obral aurat. Lihat saja film – film yang judulnya adalah film horror tapi justru muatannya sarat dengan adegan – adegan yang tidak pantas untuk ditonton oleh remaja. Sungguh ironis, diundangnya miyabi ke Indonesia semakin membuka mata kita bahwa Indonesia sudah semakin terbuka dan semakin ‘ramah’ terhadap gaya hidup yang liberal atau gaya hidup yang serba bebas dengan membiarkan pornoaksi dan pornografi semakin merebak di negri ini. Dan nampaknya, liberalisme ini ingin semakin ditancapkan pada diri generasi muda bangsa ini. Kini saatnya kita untuk bangkit kembali, bukan karena seni budaya Indonesia yang dicuri tapi kini justru rasa atau budaya malu bangsa kita yang mulai dicuri. Apakah kita ingin di cap sebagai Negara yang menjadi ‘surga’ bagi pornoaksi dan pornografi. Inilah akibatnya jika tidak ada hukum dan sanksi yang tegas untuk masalah pornografi dan pornoaksi tersebut.  Ridha MAHASISWI POLITEKNIK TEDC BANDUNG

Komentar