Langsung ke konten utama

Refleksi Hari Guru Nasional “Ketika Pendidikan di Anak Tirikan”

Sungguh miris, itulah kata yang pertama kali terlontar ketika melihat kondisi kehidupan guru yang di tayangan di salah satu stasiun televise swasta. Bagaimana tidak, di tengah maraknya ucapan ‘Selamat Hari Guru Nasional’ kita dihadapkan pada kenyataan masih banyaknya kondisi tenaga pengajar (guru) yang memprihatinkan, khususnya dari sisi tingkat kesejahteraan ekonominya. Memang tidak semua guru kondisinya memprihatinkan, tapi pada faktanya kita masih banyak menemukan tenaga pendidik ini kehidupannya belum sejahtera.

Dalam sebuah berita di daerah Sulawesi Utara ada seorang guru yang harus bekerja sampingan sebagai tukang ‘becak motor’ untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Sungguh fakta yang sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, ditengah perjuangan keras seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa, di sisi lain ia juga masih harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Pertanyaannya, “Dimana jaminan untuk kesejahteraan guru, siapa yang seharusnya memperhatikan terjaminnya kesejahteraan mereka?” Jawabannya tentu saja pemerintah. Pemerintahlah yang seharusnya menjamin pemenuhan kesejahteraan para guru ini, tanpa memandang apakah mereka pengajar tetap ataupun yang masih berstatus guru honor. Kesejahteraan mereka harus tetap diperhatikan. Bagaimana mungkin mereka bisa optimal dalam upaya mencerdasakan anak bangsa jika kondisi mereka saja diabaikan. Pemerintah tidak boleh memandang remeh profesi mereka apalagi sampai melepas tanggung jawab terhadap terpenuhinya kesejahteraan mereka.

Itulah gambaran kondisi tenaga pengajar (guru) di Indonesia, mari kita coba bandingkan dengan terjaminnya kesejahteraan tenaga pengajar pada masa daulah islam. Dimana di masa kejayaan islam yaitu ketika Khilafah islam masih tegak berdiri, jasa guru sangatlah dihargai sejalan dengan begitu terjaminnya pendidikan bagi seluruh masyarakat daulah. Pendidikan dianggap sesuatu yang sangat penting (pokok).

Islam memandang menuntut ilmu sebagai suatu kewajiban bagi setiap individu tanpa memandang status social, ekonomi maupun gender. Sehingga Negara (Daulah Islam) . Masyarakatpun memandang, seorang Muslim mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, karena yakin bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.

Agar pendidikan itu berlangsung dengan maksimal maka negarapun membuka akses yang seluas luasnya bagi para pencinta ilmu serta memfasilitasinya dengan sebaik – baik fasilitas, termasuk di dalamnya dengan menyediakan sebaik – baiknya tenaga pengajar.

Pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab ra. Beliau menugaskan tiga orang guru untuk mengajar penduduk kota Madinah baca-tulis, dengan gaji yang dikeluarkan dari Baitul Mal. Dan gaji yang diberikan kepada ketiga orang guru tersebut untuk setiap orangnya adalah 15 dinar setiap bulannya (1 dinar = 4,25 gram emas).

Para khalifah sepeninggal Khulafa ar-Rasyidin juga dikenal sebagai negarawan yang amat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa al-Makmun (Khalifah dari Bani Abbasiyah), misalnya, berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah. Kemudian didirikan pula lembaga ilmiah yang kedua yang diberi nama dengan Lembaga Ilmiah an-Nizhamiah. Tiga abad berikutnya, di kota Baghdad didirikan pula lembaga pendidikan lain bernama al-Mustansiriyah. Lembaga ini dibangun oleh Khalifah al-Mustansir al-'Abasi pada tahun 640 H.

Fasilitas lain yang menonjol adalah tempat penginapan bagi para guru dan pelajar. Tempat-tempat ini dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu; ruaq, rubath, atau tikiyah. Mereka yang tinggal di tempat-tempat pemondokan tidak dipungut biaya sedikitpun. Bahkan, sebahagian besar dari mereka adalah orang-orang yang memperoleh tunjangan dari negara karena kesungguhannya dalam belajar maupun yang melakukan riset.

Walhasil, dari sejak pembentukan Daulah Islam di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah saw sampai runtuhnya pada tanggal 3 Maret 1924 pada masa Khalifah Abdul Majid II di Turki, pendidikan masyarakat dan tenaga kependidikan sangat diperhatikan sekali. Lalu, bagaimana mungkin kaum Muslim saat ini tidak merasakan kepedihan dan kerugian yang teramat besar dengan runtuhnya Daulah Islam, yang selama berabad-abad membuktikan perhatian dan kepeduliannya yang amat besar bagi dunia pendidikan dan kesejahteraan masyarakat termasuk di dalamnya para tenaga pendidik?


By : Ridha Greenly (^.^)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is me....

Huppppzz...hari ini kuliah cuma setengah hari mata kuliah perencanaan produksi. Biasalah dosen pada sibuuuuuuuuuk.... Ya udah dech pulang ke kost. Daripada cuma bengong kayak sapi ompong akhirnya ni tangan gatel juga buat utak atik laptop N jadilah blog ini. jadi kalo banyak kekurangan maaf dech, namanya juga baru belajar heheeee... Aku sengeja buat blog ini buat menyalurkan hobby nulis - nulis ( walaupun tulisanya masih ga bagus) soalnya disini aku bisa ngungkapin apa yang ada di pikiranku, entah itu aku lagi seneng, kesal, sedih atau lagi ingin beropini ya disinilah tempatku. Pokoknya disini aku bisa CurHat N CurPik dech..

Inspirasi Hari Ini : Kamis, 17 Juli 2014

Jam mengajar seperti hari – hari sebelumnya, setelah selesai bercuap – cuap menjelaskan materi pelajaran. Saya menuliskan rangkuman pelajaran di papan tulis untuk di catat oleh anak – anak. Tidak banyak, hanya lima baris kalimat. Tak tega rasanya membuat mereka terlalu banyak menulis, selain kasihan tangan mereka sakit saya juga khawatir mereka jadi cepat bosan. Entah karena masih dalam masa transisi dari kelas 1 ke kelas 2, atau karena sudah cukup lama libur membuat mereka jadi lebih lambat menulis dibanding saat mereka di kelas 1. Untuk menyiasatinya, saya memberikan batas waktu mereka dalam menulis, sehingga mereka termotivasi untuk adu cepat menulis, tentu saja saya tetap menekankan anak – anak untuk menjaga kerapian tulisannya. “Tujuh menit lagi….” Ucap saya sembari melihat jam tangan saya, yang sebenarnya tidak benar – benar saya perhatikan waktunya. “Whaaaaaa…” terdengar siswa saya mulai tidak sabar menyelesaikan tulisannya. Tak lama kemudian, “Lima me...

Seks Bebas Remaja, Nggak banget dech!

Maraknya kegiatan remaja sekarang dalam melakukan seks bebas di nengri ini nggak kepalang tanggung. Nggak cuma di kota aja lho, di kampung2 pun 'ritual' ini sudah menjadi hal yang banyak ditemukan kasusnya. Dua orang wanita hamil oleh satu laki2, atau seorang wanita hamil tapi nggak tahu lelaki mana yang menghamilinya. Yupz, parah banget kan pren?! Bahkan kasus2 seperti ini terjadi mulai dari kalangan masyarakat bawah sampai artis N pejabat sekalipun. Bahkan ada artis yang nggak malu2 nyatain kalo dirinya sedang hamil walaupun belum menikah (urat malunya udah putus kali yeeeeeeee) Penyebab maraknya gaya hidup seperti ini salah satunya adalah 'bergentayangannya' tontonan2 yang mengundang syahwat di media2, seperti halnya film2, iklan yang penuh dengan obral aurat dan masih banyak lagi yang menuntun adrenalin tubuh terpacu dengan cepat. Bagi yang imannya tipi, hemmmm...siap2 dech jadi korban. Salah satu solusi yang tepat adalah, media televisi seharusnya tidak lagi menay...