Langsung ke konten utama

Inspirasi Hari Ini : Kamis, 17 Juli 2014

Jam mengajar seperti hari – hari sebelumnya, setelah selesai bercuap – cuap menjelaskan materi pelajaran. Saya menuliskan rangkuman pelajaran di papan tulis untuk di catat oleh anak – anak. Tidak banyak, hanya lima baris kalimat. Tak tega rasanya membuat mereka terlalu banyak menulis, selain kasihan tangan mereka sakit saya juga khawatir mereka jadi cepat bosan.
Entah karena masih dalam masa transisi dari kelas 1 ke kelas 2, atau karena sudah cukup lama libur membuat mereka jadi lebih lambat menulis dibanding saat mereka di kelas 1. Untuk menyiasatinya, saya memberikan batas waktu mereka dalam menulis, sehingga mereka termotivasi untuk adu cepat menulis, tentu saja saya tetap menekankan anak – anak untuk menjaga kerapian tulisannya.
“Tujuh menit lagi….” Ucap saya sembari melihat jam tangan saya, yang sebenarnya tidak benar – benar saya perhatikan waktunya.
“Whaaaaaa…” terdengar siswa saya mulai tidak sabar menyelesaikan tulisannya.
Tak lama kemudian, “Lima menit lagi…..!!!”
Semakin banyak siswa yang mengumpulkan buku catatannya di atas meja untuk diperiksa. Dan akhirnya….
“Setengah menit lagi….” Ucap saya asal.
Masih ada 3 atau empat orang lagi siswa saya yang terus ‘khusyu’ menyelesaikan  tulisannya. Sedangkan siswa lain yang telah selesai sibuk dengan ngobrol atau membaca buku cerita.
Tiba – tiba seorang siswa saya yang sudah selesai menulis jauh lebih awal, maju menghampiri saya, “Ustadzah….ustdzah…” panggilnya setengah berbisik.
“Ya nak?”jawab saya sembari sibuk memeriksa catatan anak – anak di depanku.
“Ustadzah, tambah lah lagi waktunya. Kasihan saya lihat mereka….” Ucapnya dengan wajah polosnya.
Deeegggg…..
Mungkin bagi kebanyakan orang, kalimat itu adalah kalimat biasa. Tapi buat saya itu kaliamat yang luar biasa. Yang keluar dari seorang anak berusia 7 tahun, kelas 2 SD.
Dari kelas 1 sampai sekarang mereka naik kelas 2, lebih dari 1 tahun saya membersamai mereka senin samapai sabtu. Jadi saya kenal betul tingkah polah mereka sehari – hari, sebagaimana anak – anak pada umumnya, sibuk dengan bermainnya.
Dan siswa saya yang satu ini, Habsyi namanya…disaat teman – temannya yang sibuk dengan bermain, membaca atau sekedar bercerita, ternyata dia sempat untuk memperhatikan teman – temannya yang lain yang sedang ‘panik’ diburu waktu ½ menit untuk menyelesaikan catatan. Dan dia sempatkan waktunya untuk maju menghampiri saya demi meminta tambahan waktu untuk teman – temannya.
Disaat saya dengan santainya memburu anak – anak dengan waktu untuk menyelesaikan catatannya, dengan sudut pandang yang berbeda Habsyi mengingatkan saya bahwa ini bukan hal yang mudah bagi mereka….Sederhanyanya, karena dia yang berada di posisi yang sama dengan teman – teman yang lain. Walaupun dia telah selesai lebih dulu, tapi dia sudah merasakan hal yang sama seperti yang dialami temannya yang belum selesai. Sama – sama capek menulis…dan merasa ‘panik’ saat saya membatasi waktu mereka. Dan saya, saya tidak ada di posisi mereka sehingga saya tidak merasa berat ketika berulang kali menegaskan ke anak – anak bahwa waktu mereka tinggal sekian….dan sekian menit lagi.
Tanpa pikir panjang saya pun kembali mengumumkan :
“Oke, waktunya ustadzah tambah 2 menit lagiiiii….”
“Haaaahhh…!” *Siswa yang lain bengong (-_-)”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This is me....

Huppppzz...hari ini kuliah cuma setengah hari mata kuliah perencanaan produksi. Biasalah dosen pada sibuuuuuuuuuk.... Ya udah dech pulang ke kost. Daripada cuma bengong kayak sapi ompong akhirnya ni tangan gatel juga buat utak atik laptop N jadilah blog ini. jadi kalo banyak kekurangan maaf dech, namanya juga baru belajar heheeee... Aku sengeja buat blog ini buat menyalurkan hobby nulis - nulis ( walaupun tulisanya masih ga bagus) soalnya disini aku bisa ngungkapin apa yang ada di pikiranku, entah itu aku lagi seneng, kesal, sedih atau lagi ingin beropini ya disinilah tempatku. Pokoknya disini aku bisa CurHat N CurPik dech..

Seks Bebas Remaja, Nggak banget dech!

Maraknya kegiatan remaja sekarang dalam melakukan seks bebas di nengri ini nggak kepalang tanggung. Nggak cuma di kota aja lho, di kampung2 pun 'ritual' ini sudah menjadi hal yang banyak ditemukan kasusnya. Dua orang wanita hamil oleh satu laki2, atau seorang wanita hamil tapi nggak tahu lelaki mana yang menghamilinya. Yupz, parah banget kan pren?! Bahkan kasus2 seperti ini terjadi mulai dari kalangan masyarakat bawah sampai artis N pejabat sekalipun. Bahkan ada artis yang nggak malu2 nyatain kalo dirinya sedang hamil walaupun belum menikah (urat malunya udah putus kali yeeeeeeee) Penyebab maraknya gaya hidup seperti ini salah satunya adalah 'bergentayangannya' tontonan2 yang mengundang syahwat di media2, seperti halnya film2, iklan yang penuh dengan obral aurat dan masih banyak lagi yang menuntun adrenalin tubuh terpacu dengan cepat. Bagi yang imannya tipi, hemmmm...siap2 dech jadi korban. Salah satu solusi yang tepat adalah, media televisi seharusnya tidak lagi menay...